-->

Pemimpin dan Kepemimpinan Perspektif Islam

pemimpin perspektif islam

INDEK-NEWS.COM - Pemimpin dan Kepemimpinan Perspektif Islam -  Pemipin dan kepemimpinan adalah dua hal yang saling berkaitan erat sehingga tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Dalam perkembangan peradaban manusia, kepemimpinan dibangun atas dasar nilai-nilai kearifan local yang berada di suatu wilayah, salah satu ciri dari kearifan local adalah mempunyai integritas yang tinggi atas lingkungannya.

Maka dengan itu islam mengatur dengan sedemikian rupa tentang pemimpin dan kepemimpinan.

Dasar-dasar pemimpin perspektif islam :


Ada beberapa catatan yang hendak diperhatikan jika memilih seorang pemimpin :

1. Tidak diperkenankan memilih seorang pemimpin dari golongan orang-orang kafir, sesuai dengan firman Allah SWT Q.S An-Nissa :144

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi  las an yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?

2. Jangan pernah mengangkat pemimpin dari golongan orang-orang yang mempermaikan agama Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Q.S Al- Maidah :57

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَكُمْ هُزُوًا وَّلَعِبًا مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ اَوْلِيَاۤءَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.

3. Seorang pemimpin hendak memiliki keahlian dibidangnya agar dalam proses kepemimpinannya berjalan dengan baik, berbeda jika suatu hal diberikan bukan terhadap ahlinya maka tunggulah kehancuran. 

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR Bukhori dan Muslim).

4. Sifat dan karakter pemimpin harus mencintai dan dicintai rakyatnya, mendoakan dan didoakan rakyatnya, mengajak bukan mengejek. 

Sabda Rasulullah SAW : “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).

5. Seorang pemimpin hendaklah mendahulukan kepentingan rakyatnya dibandingkan dengan kepentingan pribadi serta kelompoknya.

6. Harus memiliki sifat-sifat Ilahiyah (ketuhanan), sifat ini tercantum dalam Asma’ul Husna.

Dasar-dasar kepemimpinan perspektif islam :


1. Mengutamakan segala urusan dengan bermusyawarah. Firman Allah SWT Q.S Ali Imran : 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

2. Memiliki pemikiran dan sikap yang adil. Sebagaimana firman Allah SWt Q.S Shad ayat 26

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ
Artinya :  “Wahai Dawud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

3. Membebaskan rakyatnya untuk berfikir bebas dan bertindak selama masih dalam koridor peraturan yang berlaku dalam hal ini sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Pemimpin dalam perspektif islam tidak hanya bertanggung jawab atas yang dipimpinnya didunia semata, melainkan ada pengadilan yang menunggu pertanggung jawaban mereka yaitu kelak di akhirat oleh Allah SWT.

Maka jadilah pemimpin-pemimpin yang Amanah dan menjalankan proses kepemimpinan dengan senantiasa berpedoman terhadap Al-Qur’an dan Hadits. (Wallahu ‘alam bisowab)